Industri perbankan pada tahun 2026 menghadapi dinamika lingkungan bisnis yang semakin kompleks, ditandai dengan tekanan efisiensi biaya yang konsisten, peningkatan ekspektasi pemegang saham terhadap produktivitas, tuntutan kepatuhan regulasi yang semakin ketat, serta percepatan otomasi dan digitalisasi proses operasional di hampir seluruh lini organisasi. Transformasi digital yang masif, kompetisi dengan bank digital dan fintech, serta kebutuhan untuk menjaga rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio) tetap sehat, menempatkan fungsi pendukung sebagai area strategis yang harus dikelola secara lebih profesional dan berbasis risiko. Dalam konteks ini, Divisi Umum (General Affairs) sebagai pengelola tenaga kerja non-core seperti security, cleaning service, driver, teknisi gedung, dan tenaga alih daya lainnya memegang peran penting dalam memastikan operasional kantor pusat maupun jaringan cabang tetap berjalan lancar, aman, dan efisien. Divisi ini tidak lagi sekadar berperan administratif, tetapi dituntut mampu memastikan pengelolaan outsourcing yang efektif, transparan, akuntabel, serta selaras dengan prinsip manajemen risiko dan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Dalam kerangka pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan serta kepatuhan terhadap kebijakan ketenagakerjaan nasional dan standar audit internal, pengelolaan pihak ketiga kini tidak lagi hanya berorientasi pada efisiensi biaya jangka pendek, melainkan juga harus mempertimbangkan aspek kepatuhan hukum, keberlanjutan hubungan kerja, perlindungan tenaga kerja, keamanan data dan aset perusahaan, serta mitigasi risiko reputasi yang dapat berdampak signifikan terhadap citra bank. Di sisi lain, perkembangan teknologi seperti Robotic Process Automation (RPA), sistem e-procurement terintegrasi, digital attendance berbasis biometrik maupun cloud, serta smart building management system berbasis Internet of Things (IoT) telah mendorong perubahan mendasar pada struktur dan kebutuhan workforce non-core di lingkungan perbankan. Sejumlah fungsi administratif dan monitoring yang sebelumnya dilakukan secara manual kini mulai terdigitalisasi dan terotomasi, sehingga mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja tertentu, namun sekaligus meningkatkan kebutuhan akan pengawasan berbasis data dan pengelolaan kontrak yang lebih presisi. Pada saat yang sama, beberapa peran non-core justru membutuhkan peningkatan kompetensi, adaptasi terhadap penggunaan teknologi baru, serta penerapan mekanisme evaluasi berbasis indikator kinerja yang terukur melalui skema performance-based contract. Perubahan ini menuntut Divisi Umum untuk mampu melakukan perencanaan tenaga kerja yang lebih strategis, mengelola transisi secara bijaksana, serta membangun kemitraan yang sehat dan produktif dengan vendor outsourcing. Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan pemahaman menyeluruh dan strategi komprehensif dalam mengelola outsourcing dan tenaga kerja non-core secara adaptif, terstruktur, terukur, dan berorientasi risiko, sehingga mampu mendukung keberlangsungan usaha (business continuity), meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat sistem pengendalian internal, serta memastikan praktik tata kelola yang selaras dengan standar industri perbankan modern.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan dapat: Memahami kerangka regulasi dan prinsip tata kelola outsourcing di industri perbankan. Mengidentifikasi risiko operasional, hukum, dan reputasi dalam pengelolaan tenaga kerja non-core. Menyusun strategi kontrak berbasis kinerja (performance-based outsourcing). Mengintegrasikan otomasi dan digital tools dalam pengelolaan vendor dan tenaga alih daya. Meningkatkan efektivitas monitoring, evaluasi, dan pengendalian biaya outsourcing. Mengelola perubahan organisasi akibat dampak otomasi terhadap workforce non-core.
HARI PERTAMA
Sub Materi: Tren outsourcing dan workforce non-core di sektor keuangan Core vs non-core function dalam perbankan modern Dampak digitalisasi terhadap model outsourcing Alignment outsourcing dengan strategi bisnis dan efisiensi bank
Sub Materi: Prinsip kehati-hatian dalam penggunaan tenaga alih daya Regulasi ketenagakerjaan terkait outsourcing Manajemen risiko pihak ketiga (third-party risk management) Audit dan kepatuhan vendor Dokumentasi dan kontrol internal
Sub Materi: Identifikasi risiko operasional, hukum, reputasi, dan fraud Risiko ketergantungan pada vendor Mitigasi risiko moral hazard tenaga alih daya Studi kasus kegagalan pengelolaan outsourcing di industri jasa keuangan
Sub Materi: Penyusunan Service Level Agreement (SLA) yang terukur Key Performance Indicators (KPI) untuk tenaga non-core Skema penalti dan insentif berbasis performa Strategi negosiasi kontrak yang efektif Cost structure & transparansi biaya HARI KEDUA
Sub Materi: Dampak Robotic Process Automation (RPA) terhadap fungsi pendukung Digital attendance & monitoring system E-procurement dan vendor management system Smart building & predictive maintenance Perubahan kompetensi akibat otomasi
Sub Materi: Vendor performance review berbasis data Dashboard monitoring outsourcing Audit operasional tenaga non-core Continuous improvement & corrective action plan
Sub Materi: Analisis kebutuhan tenaga kerja di era otomasi Reskilling & upskilling tenaga non-core Strategi komunikasi perubahan kepada vendor dan pekerja Manajemen konflik & hubungan industrial
Sub Materi: Benchmark praktik terbaik pengelolaan outsourcing Diskusi studi kasus nyata di perbankan Penyusunan action plan implementasi di unit kerja masing-masing Presentasi dan feedback fasilitator
Pre-test Presentasi Diskusi Studi Kasus Post-test
Training Kit (Tas, Hand out, Flashdisk, Block note, Pulpen dll) Sertifikat Souvenir 2x Coffee Break, 1x Makan Siang harga OFFLINE : Rp. 8.000.000,- / Participant / Non Residential / Offline Public Training / Running dengan kuota minimal 5 peserta ONLINE : Rp. 4.000.000,- / Participant / Online Public Training / Running dengan Kuota Minimal 3 peserta In House Training (Hubungi Kami untuk mendapatkan Harga Khusus)