Dalam kondisi ekonomi normal, laporan keuangan disusun dengan asumsi bahwa daya beli mata uang relatif stabil. Artinya, nilai rupiah dianggap tidak mengalami perubahan signifikan dalam jangka pendek. Asumsi ini menjadi dasar utama dalam akuntansi berbasis biaya historis yang umum digunakan oleh perusahaan. Namun, asumsi tersebut tidak selalu berlaku. Dalam kondisi tertentu, suatu negara dapat mengalami inflasi yang sangat tinggi hingga mencapai tingkat hiperinflasi. Hiperinflasi adalah kondisi ketika harga barang dan jasa meningkat secara ekstrem dalam waktu singkat, sehingga nilai mata uang turun secara drastis dan kehilangan fungsinya sebagai alat ukur nilai yang stabil.
Dalam situasi ini, laporan keuangan yang disusun tanpa penyesuaian akan kehilangan relevansinya. Pendapatan dapat terlihat meningkat, padahal hanya dipengaruhi oleh kenaikan harga. Aset juga dapat terlihat tidak akurat karena tidak mencerminkan nilai ekonomi saat ini. Hal ini berisiko menyesatkan pengguna laporan keuangan seperti investor, kreditur, dan regulator.
Untuk menjawab tantangan tersebut, diterapkan PSAK 229 Pelaporan Keuangan dalam Ekonomi Hiperinflasi, yang merupakan adopsi dari IAS 29. Standar ini mengatur bagaimana laporan keuangan harus disesuaikan agar tetap mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya dalam situasi inflasi ekstrem.
PSAK 229 Pelaporan Keuangan dalam Ekonomi Hiperinflasi merupakan bagian dari cabang akuntansi keuangan lanjutan yang berkaitan dengan pelaporan keuangan internasional. Secara keilmuan, standar ini berhubungan erat dengan teori akuntansi inflasi, ekonomi makro, serta manajemen keuangan dalam kondisi ketidakstabilan moneter.
Pelatihan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan praktis dalam memahami bagaimana laporan keuangan harus disesuaikan ketika terjadi hiperinflasi. Mengapa hal ini penting? Karena tanpa penyesuaian, laporan keuangan dapat memberikan gambaran yang salah tentang kinerja perusahaan. Laba bisa terlihat meningkat hanya karena inflasi, bukan karena peningkatan operasional yang sebenarnya.
Pelatihan ini cocok untuk berbagai pihak yang terlibat dalam pelaporan dan analisis keuangan. Akuntan membutuhkan pemahaman ini untuk menyusun laporan yang sesuai standar. Auditor memerlukannya untuk menilai kewajaran laporan keuangan. Analis keuangan dan investor juga perlu memahami dampak inflasi agar tidak salah dalam mengambil keputusan. Bahkan mahasiswa dan akademisi akuntansi perlu memahaminya sebagai bagian dari pengembangan ilmu akuntansi modern.
Mengapa pelatihan ini penting diikuti? Karena PSAK 229 tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga sangat teknis dalam penerapan. Proses penyesuaian laporan keuangan menggunakan indeks harga umum membutuhkan pemahaman yang mendalam dan ketelitian tinggi. Tanpa pelatihan yang tepat, risiko kesalahan dalam restatement sangat besar dan dapat mempengaruhi kualitas informasi keuangan secara keseluruhan.
Divisi Akuntansi & Pelaporan Keuangan
Divisi Finance
Divisi Regulatory Reporting
Divisi Internal Audit
Divisi Compliance
Divisi Treasury
Divisi Risk Management
• Pre Test
• Presentasi Materi
• Diskusi
• Studi Kasus
• Post Test
• Training Amenities
• Peralatan Pelatihan (Tas, Hand Out, Flashdisk, Block Note, Pulpen, Watermark)
• Sertifikat
• Souvenir
• 2x Coffee Break, 1x Lunch