Job Crafting Design as an Effort to Increase Work Engagement on Workers

Job Crafting Design as an Effort to Increase Work Engagement on Workers

Job Crafting Design as an Effort to Increase Work Engagement on Workers

6 – 7 Februari 2025 Yogyakarta Hotel Ibis Style

Deskripsi

Job crafting dapat diartikan sebagai suatu keahlian karyawan yang mampu mendesain ulang pekerjaan mereka atas inisiatif sendiri, dengan atau tanpa keterlibatan manajemen, sehingga pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan terasa lebih mudah dan nyaman karena ada keseimbangan antara tuntutan dan sumber daya pekerjaan dengan kemampuan pribadi ataupun kebutuhan karyawan. Job crafting – mengubah pekerjaan yang dijalani sehingga lebih bermakna bagi diri kita (Dutton & Wrzesniewski, 2020). Hal ini mencakup mendesain ulang tipe, cakupan, urutan serta jumlah tugas yang dikerjakan (task crafting); menata kembali dengan siapa kita berinteraksi dalam pekerjaan (relational crafting), sampai ke memikirkan ulang bagaimana kita memaknai pekerjaan yang kita jalani (cognitive crafting). Hal ini karena secara esensial, pekerjaan adalah kumpulan tugas dan relasi interpersonal yang dibebankan kepada seseorang di dalam suatu organisasi. Dengan demikian setiap orang pun seharusnya punya ruang untuk melakukan kustomisasi pekerjaan agar selaras dengan motif, kekuatan dan kelebihan serta renjana (passion) mereka (Berg, Dutton & Wrzesniewski, 2008). Sebagian dari kita mungkin langsung menggerenyitkan dahi sampai berkerut saat disodori ide job crafting. Hal ini karena kebanyakan dari kita mendapatkan pekerjaan secara top-down dari atasan. Pekerjaan pun menjadi tidak bisa dipikirkan, disesuaikan, dirancang ulang, karena pekerjaan ya untuk dikerjakan. Benar bahwa sebagian organisasi mungkin menerapkan kaidah bekerja secara rigid, tetapi bisa jadi ada organisasi yang memberikan ruang gerak memadai kepada para personilnya. Organisasi yang membuka ruang untuk job crafting berpotensi untuk melibakan pegawainya sehingga lebih terlibat (to become more engaged) dengan apa yang ia jalani sehari-hari. Menanggapi situasi tersebut, Goffee dan Jones (2013) menyelidiki hal ini selama bertahun-tahun dengan mengajukan pertanyaan: apabila kita bisa menciptakan organisasi yang kita impi-impikan, maka kira-kira seperti apakah wujudnya? Jawaban yang terkumpul cukup menarik: sebagian besar menginginkan organisasi yang memberikan ruang pada kebebasan individu – salah satunya untuk melakukan job crafting.

Tujuan

Karyawan mendesain kembali pekerjaannya sendiri sehingga dapat lebih bermakna dan meningkatkan kepuasan terhadap pekerjaan, engagement, ketahanan menghadapi tantangan, serta pengembangan diri Mencapai proses internalisasi nilai-nilai positif untuk memperkuat motivasi kerja dan kesadaran tentang hubungan yang tidak terpisahkan antara etos kerja, budaya kerja, dan budaya organisasi Memiliki sikap dan perilaku kerja yang produktif, serta mudah beradaptasi terhadap tantangan dan kedinamisan yang ada Menumbuhkan semangat kerja yang tinggi dari motivasi yang kuat dan konsisten

Materi

Definisi Job Crafting Seberapa penting job crafting dalam penyelesaian tugas serta aspek-aspek apa saja yang ada dalam job crafting Tipe Job Crafting Relationship crafting : memperkuat hubungan antar karyawan  Task crafting : menyusun kembali tugas atau deskripsi pekerjaan yang ada Cognitive crafting : menciptakan perspektif baru terhadap pekerjaan Well-being crafting : menciptakan kesejahteraan mental dan fisik di tempat kerja Aspek – Aspek yang terdapat dalam Job Crafting Increasing Structural Resources dan Increasing Social Resources Decreasing hindering job Demands dan increasing challenging job demands Mengimplementasikan Job Crafting dengan maksimal di tempat kerja

Metode

Pre-test Presentasi Diskusi Studi Kasus Post-test

Fasilitas

Training Kit (Tas, Hand out, Flashdisk, Block note, Pulpen dll) Sertifikat Souvenir 2x Coffee Break, 1x Makan Siang

Kembali ke Layanan