Penerapan standar akuntansi berbasis expected loss melalui International Financial Reporting Standards Foundation (IFRS 9 – Financial Instruments) telah mengubah secara fundamental pendekatan pencadangan kerugian kredit di industri perbankan, dari incurred loss model menjadi forward-looking expected credit loss (ECL). Memasuki tahun 2026, dinamika ekonomi global, volatilitas suku bunga, risiko geopolitik, perubahan iklim, serta perkembangan digital lending semakin meningkatkan kompleksitas estimasi ECL. Bank dituntut untuk memperkuat kualitas data, validitas model Probability of Default (PD), Loss Given Default (LGD), dan Exposure at Default (EAD), serta memastikan integrasi yang kuat antara fungsi akuntansi, risiko, dan bisnis dalam menyusun pencadangan yang akurat dan prudent. Selain tuntutan standar internasional, implementasi IFRS 9 juga berada dalam pengawasan regulator domestik seperti Otoritas Jasa Keuangan, terutama dalam aspek transparansi pelaporan, konsistensi asumsi makroekonomi, dan kecukupan pencadangan terhadap potensi penurunan kualitas aset. Ketidakakuratan dalam perhitungan ECL dapat berdampak langsung pada laba rugi, volatilitas ekuitas, hingga rasio permodalan bank. Oleh karena itu, pelatihan ini dirancang untuk memberikan pembaruan komprehensif terkait praktik terbaik implementasi IFRS 9 dan penguatan metodologi ECL 2026, termasuk pengelolaan overlay manajemen (management overlay), stress testing, validasi model, serta kesiapan menghadapi audit dan regulatory review.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan dapat: Memahami prinsip utama IFRS 9 dan pendekatan Expected Credit Loss (ECL). Menjelaskan perbedaan Stage 1, Stage 2, dan Stage 3 dalam klasifikasi aset keuangan. Mengidentifikasi faktor risiko yang memengaruhi estimasi PD, LGD, dan EAD. Mengintegrasikan proyeksi makroekonomi dalam perhitungan ECL. Mengevaluasi kecukupan pencadangan dan dampaknya terhadap laporan keuangan. Memahami praktik management overlay dan governance model risk. Meningkatkan kesiapan menghadapi audit internal, eksternal, dan regulatory review.
Hari 1 – IFRS 9 Framework & ECL Methodology Update
Evolusi dari incurred loss ke expected loss Tantangan implementasi IFRS 9 pasca pandemi dan krisis ekonomi Ekspektasi regulator dan auditor Hubungan IFRS 9 dengan permodalan dan risk management
Business model test & SPPI test Kriteria Significant Increase in Credit Risk (SICR) Perpindahan Stage 1, Stage 2, dan Stage 3 Dampak staging terhadap pencadangan
Probability of Default (PD) modeling Loss Given Default (LGD) estimation Exposure at Default (EAD) calculation Lifetime vs 12-month ECL
Integrasi variabel makroekonomi (GDP, inflasi, suku bunga) Multiple scenario approach (baseline, optimistic, downside) Weighting methodology Sensitivity analysis terhadap perubahan asumsi Hari 2 – Governance, Validation & Financial Impact
Kapan dan mengapa overlay diperlukan Dokumentasi dan justifikasi manajemen Risiko bias dan mitigasinya Best practice governance overlay
Backtesting & performance monitoring Independent validation process Data quality & data governance Audit trail dan dokumentasi model
Dampak ECL terhadap laba rugi dan ekuitas Volatilitas pencadangan dan strategi stabilisasi Keterkaitan dengan perhitungan modal berbasis risiko Disclosure & transparency requirement
Gap analysis framework Penyempurnaan metodologi & sistem pendukung Integrasi IFRS 9 dengan stress testing dan ICAAP Action plan peningkatan kualitas ECL secara berkelanjutan
Divisi Akuntansi & Pelaporan Keuangan
Divisi Finance
Divisi Credit Risk
Divisi Risk Management
Divisi Regulatory Reporting
Divisi Data Analytics
Divisi Internal Audit
• Pre Test
• Presentasi Materi
• Diskusi
• Studi Kasus
• Post Test
• Training Amenities
• Peralatan Pelatihan (Tas, Hand Out, Flashdisk, Block Note, Pulpen, Watermark)
• Sertifikat
• Souvenir
• 2x Coffee Break, 1x Lunch