Melonjaknya tingkat Non Performing Loan (NPL) di masa pandemi saat ini banyak membuat lembaga keuangan harus mencari cara agar pertumbuhan kredit tetap terjaga namun angka kredit macet pun tetap dibawah 5% sebagaimana ditentukan oleh regulator. Namun persaingan untuk mendapatkan debitur potensial yang "sehat" juga relatif ketat. Diperlukan pola analisa kredit yang lebih kreatif dengan tetap memperhatikan risiko, namun cepat dalam proses dan kuat dalam analisa. Karena faktanya, dokumen analisa yang tebal sekalipun tidak menjamin kredit akan sehat dan tidak bermasalah di kemudian hari. Sebaliknya, dengan proses analisa yang lebih ringkas melalui teknik yang tepat, beberapa fasilitas pinjaman justru selalu dalam posisi "Lancar" hingga angsuran terakhir.
Lalu apa yang salah dari proses analisa yang selama ini dilakukan? Selama ini Relationship Manager (RM) atau Account Officer (AO) cenderung "dimanjakan" dengan perhitungan secara otomatis yang dilakukan oleh sistem. Selain itu, pembuatan proposal dan dokumen analisa juga seringkali hanya bersifat 'turun-temurun', mengikuti format yang sudah rutin dibuat dan justru didominasi data-data debitur dibandingkan analisa kreditnya. Di sinilah sebuah kreativitas diperlukan, sehingga proses analisa tidak memakan waktu terlalu lama dengan output dokumen yang tidak terlalu tebal, agar komite kredit lebih akurat dalam memutuskan pemberian fasilitas pembiayaan.
1. Prinsip kehati-hatian
2. Mengapa nasabah butuh pinjaman dan cara pengembalian pinjaman
3. Mengenali character debitur
4. Mengenali usaha debitur dan menilai kesempatan untuk bekerjasama
5. Mengenali kondisi keuangan debitur melalui rasio-rasio keuangan
6. Menganalisa kebutuhan pinjaman debitur
7. Mengenali agunan yang diberikan
8. Menyajikan proposal kredit yang efektif